TIM PPKO KM FAKULTAS PSIKOLOGI UNS GELAR PEMBEKALAN DAN PELATIHAN BIOPORI SEBAGAI OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH DESA SEKARAN KLATEN BERSAMA DLH KABUPATEN KLATEN
WONOSARI, KLATEN - Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Keluarga Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar serangkaian kegiatan pembekalan dan pelatihan penanaman biopori. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu dan Minggu, 27-28 Juni 2026 ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan di Desa Sekaran, Wonosari, Klaten.
Kegiatan yang mengusung tema edukasi "Pilah Sampah dari Rumah & Penanaman Biopori" ini lahir dari keprihatinan tim terhadap masih rendahnya kesadaran warga dalam mengelola sampah. Kebiasaan membuang sampah ke sungai dan menimbunnya secara terbuka menjadi masalah utama yang ingin diintervensi. Oleh karena itu, program ini difokuskan pada penanaman lubang resapan biopori sebagai solusi pengolahan sampah organik rumah tangga yang efektif dan ramah lingkungan.
Pada hari pertama, Sabtu (27/6), kegiatan dimulai dengan pembekalan yang diikuti oleh 28 kader dari Karang Taruna dan PKK. Hadir pula 1 Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dan 1 Operator Layanan Operasional dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Klaten, serta 15 anggota Tim PPKO yang didampingi oleh dosen pembimbing. Suasana semakin semarak pada hari kedua, Minggu (28/6), ketika kegiatan dihadiri oleh 54 warga Desa Sekaran. Acara tersebut juga turut dihadiri oleh perwakilan Kepala Bidang DLH Kabupaten Klaten, Wakil Dekan Bidang Akademik, Nonakademik dan Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UNS, serta Tim Bina Desa Center UNS.
Dalam pemaparannya, Fasilitator DLH Kabupaten Klaten, Bapak Ahmad dan Bapak Wisnu, menjelaskan secara komprehensif tentang manfaat biopori. "Biopori merupakan lubang resapan air yang dimasukkan secara vertikal ke dalam tanah dan nantinya akan diisi dengan sampah organik yang lalu terurai menjadi pupuk kompos. Selain meningkatkan daya resap air dan mengurangi genangan, biopori juga membantu mengurangi volume sampah organik serta menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi lingkungan," jelas mereka. Materi disampaikan melalui presentasi, Peserta diperlihatkan juga video tutorial penanaman biopori buatan Tim PPKO KM FPsi UNS. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur tingkat kesadaran awal warga terhadap lingkungan.
Antusiasme peserta sangat terlihat pada sesi tanya jawab. Beragam pertanyaan muncul, mulai dari kekhawatiran akan dampak lingkungan hingga teknis pembuatan biopori secara mandiri. Menanggapi hal ini, fasilitator DLH menegaskan bahwa Lubang Resapan Biopori (LRB) yang dikelola dengan benar tidak akan menimbulkan bau atau mencemari lingkungan. "Selama ini dalam praktiknya tidak pernah menimbulkan bau karena lubang akan ditutup. Jika ingin proses pembusukan sampah organik lebih cepat dan optimal, warga bisa menambahkan EM4, air cucian beras, atau ampas kopi," tambahnya.
Puncak antusiasme terjadi saat diskusi beralih pada pemanfaatan barang bekas untuk membuat biopori. Warga menjadi lebih percaya diri setelah mengetahui bahwa pembuatan biopori tidak harus menggunakan pipa yang mahal. "Galon bekas pun bisa digunakan, asal diberi lubang-lubang resapan. Prinsipnya, semakin lebar medianya, maka akan semakin mudah juga bagi warga ketika memanen pupuk komposnya nanti," ujar fasilitator meyakinkan. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang mudah diaplikasikan di rumah masing-masing.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari antusiasme peserta, tetapi juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Program ini mendukung tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemanfaatan hasil biopori berupa pupuk kompos untuk media tanam yang berpotensi mendorong ekonomi inklusif. Selain itu, kegiatan ini juga mewujudkan tujuan ke-17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, Karang Taruna, PKK, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Klaten. Dengan adanya program ini, diharapkan Desa Sekaran dapat menjadi percontohan desa mandiri dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
What's Your Reaction?





